Perahu Kertas, dan tokoh-tokohnya
Pengen berbagi cerita, tentang sebuah buku: Perahu Kertas, karangan Dee. Bukunya bagus banget. Awesome! Aq suka. Ngga.. ceritanya ngga berat koq, ngga kaya buku-bukunya Dee yang sebelumnya. Buku ini begitu mudah dipahami. Pertama, karena menggunakan bahasa ABG layaknya cerita Teenlit or Chiclit. Juga karena ceritanya yang memang ngga jauh-jauh dari kehidupan kita sehari-hari, tentang cinta, keluarga, dan sahabat.
Namun, meskipun sepertinya sama seperti novel-novel pop lain, novel Perahu Kertas ini betul-betul ‘ngga biasa’. Dee selalu bisa membuat cerita yang bikin emosi campur aduk. Aq dibikin ketawa, senyum-senyum, nangis, merenung, pokoknya aq begitu menikmati setiap perubahan emosi yang aq alami selama aq baca buku ini.
Ada satu hal yang kemudian aq sadari, aq ngerasa seperti membaca cerita aq sendiri. Membuatku merasa terikat dengan buku ini. Dan anehnya, aq ngerasa, diriku terbagi ke dalam beberapa tokoh sekaligus.
=====
Di awal cerita, aq ngerasa aq itu Noni, yang selalu jadi seksi sibuk (seksi riweuh klo aq bilang). Seneng ngatur, selalu merencanakan segala sesuatu, dan selalu berusaha agar semuanya sesuai persis dengan rencana. Sounds like miss perfect, huh?
Lanjut lagi, aq ngerasa aq itu Ojos (Joshua). Cerewet, dan perhatian. Juga sensitif. Dia bisa mendeteksi adanya gelombang yang ngga beres, situasi yang ngga aman, yang bikin ngga nyaman.
Pas tokoh Wanda muncul. Hehe, aq ngerasa aq mirip seperti Wanda (untuk beberapa sifat). Agresif, ekspresif, jealousy. Seems like she would do anything to make Keenan be hers. But no, aq ngga suka curang kaya Wanda. Sedihnya, meskipun Keenan akhirnya sama Wanda, di hati Keenan selalu ada Kugy. Keenan malah punya nama panggilan khusus untuk Kugy: Kecil.
(Trus, Kugy yang ngerasa dirinya ngga sanggup bersaing dengan Wanda, mulai menyibukkan dirinya dengan Sakola Alit. Lalalaalalaalla~)
Eeh, ternyata aq pun ngalamin kejadian seperti Eko. Berada pada posisi sulit. Bingung mendapati dua orang yang disayanginya bertengkar, perang dingin. Ngga tanggung-tanggung, sampe 3 tahun!
Luhde. Kadangan aq juga ngerasa seperti dia. Setia menunggu sampai luka hati Keenan sembuh. Sama juga seperti Wanda, meskipun akhirnya dengan Keenan, tapi Luhde tetap menjadi bayang-bayang Kugy. Kasian.
Oiya, waktu Remi panik, tersiksa seharian karena ngga dapet kabar apa-apa dari Kugy, hehe.. aq juga pernah tuh kaya gituh. Ngga tenang seharian, perasaan tuh ngga enak banget. Ngga mau-mau lagi deh :|
=====
Overall, novel ini inspiring banget. Kita diajak untuk berani bermimpi, ngga menyerah, tetap menerima kenyataan, dan juga belajar melepaskan..
Fhew.. Perahu Kertas-ku dah selesai kubaca. Tamat. Happy ending.
Tapi ceritaku belum..
Entah akhirnya nanti aq akan jadi Kugy & Keenan yang berhasil menjalani mimpi. Ato Remi & Luhde, yang harus melepaskan orang yang mereka cintai.
My fave quote:
Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh.
.
.
.
.
(dibaca lagi, novel ini tetep bikin emosiku campur aduk
)




sedang nunggu antrian buat baca.
semoga ndak begitu lama nunggunya.
dari 10 bintang, berani ngasih berapa bintang, Iyank?
hmmm….
Hmmmmmm juga….nggak suka pengarang cw uy..padahalkan pengarang cewe lebih nampol nya ?
“Karena hati tidak perlu memilih. Ia selalu tahu ke mana harus berlabuh.”
keren ya quote-nya! kl bicara perasaan, kita ga bisa prediksiin soalnya.. salam kenal lagi yah! :D
jadi pengen baca nih
emang mantap nih….